Beranda > Makalah > Latar Belakang Masalah Makalah

Latar Belakang Masalah Makalah

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Permasalahan utama pendidikan Indonesia yang diungkapkan melalui berbagai media adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Bersamaan dengan itu, dunia pendidikan juga belum mampu menjawab berbagai tantangan melalui Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada.

Berbagai upaya telah dilakukan baik oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga tertentu untuk meningkatkan mutu pendidikan. Hal itu ditunjukkan pemerintah dalam bentuk pemberian beasiswa bagi peserta didik yang berkemampuan tinggi dan berekonomi lemah. Upaya lain adalah penyelenggaraan Program Sekolah Unggul yang dimulai sejak tahun 1994, mencanangkan secara nasional progam percepatan belajar yang dikenal dengan Kelas Akselerasi oleh Mentri Pendidikan Nasional pada Rakernas Depdiknas tahun 2000. Terakhir, pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional akan mengembangkan sekolah-sekolah Nasional Berstandar Internasional (SNBI) sesuai dengan apa yang diamanatkan oleh undang-undang No. 20 tahun 2003.
SNBI adalah sekolah yang menggunakan kurikulum nasional dengan melakukan inovasi-inovasi di bidang pengelolaan sekolah dan inovasi di bidang proses pembelajaran, serta didukung sarana yang memadai sesuai dengan perkembangan teknologi untuk mampu menciptakan lulusan yang mampu bersaing dengan lulusan sekolah terbaik lainnya di dunia. Dengan kata lain SNBI dapat berarti sekolah yang melakukan proses peningkatan kualitas yang berkesinambungan sehingga menghasilkan lulusan yang mampu bersaing dengan sekolah-sekolah terbaik di dunia.
Ada beberapa alasan pentingnya program SNBI di Indonesia. Pendidikan di Indonesia dituntut untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul di segala bidang, mampu bersaing di dunia kerja, dan memiliki jiwa kebangsaan yang tinggi. Keluaran yang diinginkan dari sekolah menengah adalah punya keunggulan di bidang pengetahuan dan teknologi tetapi juga punya jiwa kebangsaan yang tinggi, sehingga dimanapun berada selalu memberikan karya terbaik bagi bangsa dan negaranya. Karena itu ada tiga tujuan program SNBI yaitu: meningkatkan kompetensi lulusan, mengelemininir keinginan sekolah ke luar negeri, dan mencegah erosi identitas bangsa Indonesia yang berjiwa kebangsaan (Eddy: 2006).
Sesuai dengan Undang-Undang No.20 tahun 2003 yang telah dikemukakan, Sumatera Barat juga berupaya untuk selalu mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikannya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengembangkan sekolah unggulan Sumatera Barat. Adapun sekolah yang telah diunjuk oleh Dinas Pendidikan Provinsi sebagai sekolah unggulan adalah SMAN 1 Padang, SMAN 10 Padang, SMAN 1 Padang Panjang, SMAN 1 Bukititnggi dan SMAN 1 Lubuk Sikaping. Kelima sekolah inilah yang dipersiapkan untuk menjadi Sekolah Nasional Berstandar Internasional.
Selain ke lima sekolah yang telah disebutkan, SMAN 3 Padang juga mempersiapkan diri secara mandiri untuk menjadi rintisan SNBI. Pada saat ini telah ada 3 kelas internasional di SMAN 3 Padang, dimana untuk pelajaran matematika dan sains bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris. Sebagai contoh guru bidang studi Fisika mengajarkan Fisika menggunakan bahasa Inggris.
Dalam prakteknya permasalahan yang ditemukan di lapangan yaitu guru mengalami kesulitan dalam menggunakan bahasa Inggris sebagai penghantar dalam pembelajaran Fisika. Akibatnya pesan materi baik berupa pengertian, konsep, hukum, teori dan sebagainya yang disampaikan guru berbahasa Inggris kurang dapat diterima oleh siswa dengan baik dan pada akhirnya hasil belajar siswa akan menurun.
Komunikasi akan berjalan dengan baik dan lancar apabila terdapat kesesuaian antara penyampai pesan dan penerima pesan. Untuk itu diperlukan suatu media dan sumber belajar yang dapat digunakan untuk membantu menyampaikan informasi dari guru kepada siswa sebagai penerima pesan.
Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan menggunakan bahan ajar dalam bentuk modul elektronik Fisika bilingual untuk mengkonstruksi pengetahuan fisika berbahasa Inggris. Sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahan ajar elektronik diperkirakan dapat menjadi alternatif sumber belajar yang baik bagi siswa dan sebagai media dalam pembelajaran Fisika berbasis KTSP berbahasa Inggris.
Penyediaan modul elektronik memberikan keuntungan dalam proses pembelajaran baik bagi guru maupun siswa. Sekurang-kurangnya ada tiga fungsi dari modul elektronik dalam pembelajaran yaitu sebagai tambahan, sebagai pelengkap, dan sebagai pengganti. Dengan modul elektronik Fisika bilingual diharapkan dapat mengoptimalkan penggunaan waktu pembelajaran sehingga pesan materi dapat disampaikan dalam waktu yang telah ditentukan dengan baik.
Dengan adanya modul elektronik Fisika bilingual yang digunakan dalam pembelajaran akan membantu siswa dalam meningkatkan penguasaan dengan mempelajari tujuan, ringkasan materi, latihan terstruktur, latihan yang harus dipecahkan, dan kunci jawaban. Melalui modul elektronik Fisika bilingual ini siswa dapat belajar lebih banyak, meningkatkan keterampilan memecahkan soal melalui latihan, menilai sendiri hasil pekerjaan yang telah dilakukan. Hal ini sangat penting dilakukan untuk meningkatkan inisiatif, kemandirian, dan kepercayaan diri siswa dalam belajar.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian. Karena itu sebagai judul penelitian yaitu ”Pengaruh Modul Elektronik Fisika Bilingual Dalam Pembelajaran Berbasis KTSP Pada Siswa Kelas X Internasional di SMAN 3 Padang.”
B. Identifikasi Masalah
C. Pembatasan Masalah
Mengingat kompleksnya masalah dan keterbatasan kemampuan peneliti serta waktu penelitian, maka dalam penelitian ini perlu dilakukan pembatasan masalah sebagai berikut :
1. Modul elektronik Fisika bilingual berisi konsep-konsep materi pokok Besaran, Satuan dan Pengukuran, Kinematika Gerak Lurus, Gerak Melingkar, Dinamika dan Hukum Newton kelas X Sekolah Menengah Atas.
2. Hasil belajar yang akan diteliti dalam penelitian berupa hasil belajar ranah kognitif dan afektif.
3. Metode pembelajaran yang digunakan untuk pembentukan kompetensi adalah ceramah, tanya jawab dan diskusi.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini. Sebagai perumusan masalah dalam penelitan ini yaitu “ Apakah Terdapat Pengaruh Penggunaan Modul Elektronik dalam Pembelajaran Berbasis KTSP Mengunakan Modul Elektronik Berbahasa Inggris Pada Siswa Kelas X Internasional di SMAN 3 Padang?”
E. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Mengetahui hasil belajar dan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) siswa dalam implementasi pembelajaran berbasis KTSP menggunakan modul elektronik Fisika bilingual.
2. Mengetahui pengaruh penggunaan modul elektronik Fisika bilingual dalam pembelajaran berbasis KTSP terhadap hasil belajar siswa.
F. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :
1. Siswa sebagai sumber belajar yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi, keaktifan, kemandirian, dan penguasaan Fisika dan bahasa Inggris.
2. Guru bidang studi Fisika yang mengajar di kelas internasional sebagai media baik sebagai tambahan maupun sebagai pelengkap dalam pembelajaran.
3. Peneliti lain sebagai sumber ide dan referensi dalam pengembangan sumber belajar dalam bentuk modul elektronik.
4. Peneliti, sebagai salah satu syarat penyelesaian studi S1 pendidikan fisika di FMIPA Universitas Negeri Padang.

BAB II
KERANGKA TEORITIS
A. Kajian Teori
1. Pengertian dan Hakikat Pembelajaran
Proses pembelajaran merupakan rangkaian peristiwa yang komplek. Dalam peristiwa tersebut terjalin komunikasi antar guru sebagai pengajar dan siswa sebagai yang belajar. Dengan demikian guru perlu memberikan dorongan kepada siswa untuk menggunakan otoritasnya dalam membangun gagasan.
Untuk dapat memahami hakekat belajar maka perlu memahami pengertian belajar, Nana (1992: 28) mengemukakan pengertian belajar sebagai berikut:
Belajar bukan menghafal dan bukan pula mengingat-ingat. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuannya, pemahaman, sikap dan tingkah lakunya, keterampilan dan kemampuannya daya reaksi dan daya penerimaannya serta aspek lain yang ada pada diri individu.
Dari kutipan dapat dikemukakan bahwa belajar adalah proses interaksi antara seluruh potensi manusiawi siswa dengan sesuatu yang direncanakan, diorganisasikan secara berencana dan baik sehingga tercapai perubahan dalam diri siswa. Jadi kalau seseorang telah belajar diharapkan ia dapat berfikir, merasakan, atau berbuat sesuatu, dan yang lainnya dengan apa yang yang dirasakan, dipikirkan, dan diperoleh sebelumnya.
Belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan di dalam diri seseorang, hal ini sejalan dengan pendapat Thursan (1992: 1) yang mengemukakan bahwa : “Belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan itu ditampilkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebasaan, pemahaman, keterampilan, daya fikir, dan lain-lain kemampuan.”
Dari definisi dapat dijelaskan bahwa seseorang yang telah belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku pada dirinya. Peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seseorang diperlihatkan dalam bentuk bertambahnya kualitas dan kuantitas kemauan orang itu dalam berbagai hal.
Sistem pembelajaran yang baik adalah usaha untuk membelajarkan individu. Pendapat ini diperkuat oleh Nasution (1992: 151) yang mengemukakan bahwa “pembelajaran adalah suatu usaha untuk memaksimalkan hasil belajar pada sasaran peningkatan ketiga ranah kognitif, afektif dan psikomotor”.
Pembelajaran Fisika merupakan suatu proses belajar yang mana siswa lebih banyak melakukan kegiatan melalui pengamatan terhadap fakta dan mengikutsertakan siswa secara aktif dalam pembelajaran agar dapat mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya. Pendapat ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Surya (1990: 81) yaitu : ”Proses pembelajaran hendaknya mengikutkan siswa secara aktif guna mengembangkan kemampuan kemampuan mengamati, menginterpretasikan, meramalkan, mengaplikasikan konsep, serta mengkomunikasikan temuannya.”
Dari kutipan dapat dijelaskan bahwa pembelajaran Fisika lebih menitikberatkan keaktifan dalam belajar sehingga hal ini akan menimbulkan rasa puas yang tinggi pada siswa. Guru diharapkan merancang pembelajaran Fisika, sehingga memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk berperan aktif dalam membangun konsep secara mandiri.
2. Pembelajaran Berbasis KTSP
Pembelajaran merupakan suatu upaya penataan lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Di dalam proses belajar terjadi interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal yang datang dari dalam diri individu maupun faktor eksternal yang datang dari lingkungan.
Dalam KTSP, lembaga sekolah diharuskan mampu menciptakan iklim pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kreativitas, semangat intelektual dan ilmiah pada setiap guru, mulai dari rumah, di sekolah, maupun di masyarakat. Hal ini berkaitan dengan adanya pergeseran peran guru yang semula lebih sebagai instruktur, kini menjadi fasilitator pembelajaran, sehingga melalui KTSP para guru dituntut untuk lebih kreatif dalam membuat sendiri kurikulum agar materi yang diajarkannya bisa diinternalisasikan secara tuntas kepada para peserta didiknya. Tuntutan ini sama halnya dengan menjebak guru itu sendiri. Karena dalam tataran teori maupun realitas yang terjadi dalam penerapan KTSP ini banyak perbedaan yang mesti diperhatikan secara serius oleh guru berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai.
Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Menurut Mulyasa (2007) pada umumnya pelaksanaan pembelajaran berbasis KTSP mencakup tiga hal yaitu: pretest, pembentukan kompetensi, dan postest.
a. Pretest (Tes Awal)
Pada umumnya pelaksanaan proses pembelajaran dimulai dengan pemberian pretest. Peretest memiliki banyak kegunaan dalam menjajagi proses pembelajaran yang akan dilaksanakan. Dengan dasar ini pretest memegang peranan yang cukup penting dalam proses pembelajaran. Fungsi pretest dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
1) Untuk menyiapkan peserta didik dalam proses belajar, karena dengan pretest maka pikiran mereka akan terfokus pada soal-soal yang harus mereka kerjakan.
2) Untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan dengan proses pembelajaran yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan membandingkan hasil pretest dengan postest.
3) Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta didik mengenai kompetensi dasar yang akan dijadikan topik dalam proses pembelajaran.
4) Untuk mengetahui darimana seharusnya proses pembelajaran dimulai, kompetensi dasar mana yang telah dikuasai peserta didik, serta kompetensi dasar mana yang perlu mendapat penekanan dan perhatian khusus.

b. Pembentukan kompetensi
Pembentukan kompetensi merupakan kegiatan inti dari pelaksanaan proses pembelajaran, yakni bagaimana kompetensi dibentuk pada peserta didik, dan bagaimana tujuan-tujuan belajar direalisasikan. Proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan, Proses pembentukan kompetensi dikatakan efektif apabila seluruh peserta didik terlibat secara aktif baik mental, fisik maupun sosialnya.
Untuk pembentukan kompetensi perlu dikembangkan pengalaman belajar yang kondusif untuk membentuk manusia yang berkualitas tinggi baik mental, moral maupun fisik. Hal ini pembentukan kompetensi yang perlu dilakukan meliputi ketiga ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Dalam hal ini perlu penghayatan yang disertai pengamalan nilai-nilai kognitif yang dimanifestasikan dalam prilaku sehari-hari.
Metode belajar mengajar yang kondusif untuk pembentukan kompetensi ini meliputi metode ceramah, tanya jawab dan diskusi. Melalui metode ini diharapkan setiap peserta didik dapat mengembangkan kompetensi dasar dan potensinya secara optimal sehingga akan lebih cepat menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat apabila mereka telah menyelesaikan suatu program pendidikan pada satuan pendidikan tertentu.
Metode ceramah yang dilakukan adalah metode ceramah yang cenderung interaktif, yaitu melibatkan peserta didik melalui adanya tanggapan balik atau perbandingan dengan pendapat dan pengalaman peserta didik.
Metode diskusi bertujuan untuk tukar menukar gagasan, pemikiran, informasi/pengalaman di antara pesrta didik, sehingga dicapai kesepakatan pokok-pokok pikiran (gagasan, kesimpulan). Untuk mencapai kesepakatan tersebut, para peserta dapat saling beradu argumentasi untuk meyaakinkan peserta lainnya. Kesepakatan pemikiran inilah yang kemudian ditulis sebagai hasil diskusi.
c. Postest (Tes Akhir)
Pada umumnya pelaksanaan pembelajaran diakhiri dengan pemberian postest. Postest juga memiliki banyak kegunaan terutama dalam melihat keberhasilan pembelajaran dan pembentukan kompetensi. Fungsi postest dalam pembelajaran dapat dikemukakan sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditentukan baik secara individu maupun kelompok.
2) Untuk mengetahui kompetensi dan tujuan-tujuan yang dapat dikuasai oleh peserta didik, serta kompetensi dan tujuan-tujuan yang belum dikuasainya.
3) Untuk mengetahui peserta didik yang perlu mengikuti kegiatan remedial dan perlu mengikuti pengayaan, serta untuk mengetahui tingkat kesulitan belajar yang dihadapi.
4) Sebagai bahan acuan untuk melakukan perbaikan terhadap kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi yang telah dilaksanakan, baik terhadap perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi.

3. Modul Elektronik Sebagai Bahan Ajar
Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar (Bambang: 2007). Bahan ajar merupakan suatu komponen sistem pembelajaran yang memegang peranan penting dalam membantu siswa mencapai kompetensi dasar dan standar kompetensi. Secara garis besar, bahan ajar berisi pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau nilai yang harus dipelajari siswa (Abdul: 2004). Salah-satu wujud bahan ajar yang penting adalah modul.
Modul merupakan alat atau sarana pembelajaran yang berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya Pengertian lain dari modul adalah bahan ajar yang disusun secara sistematis dan menarik yang mencakup isi materi, metoda, dan evaluasi yang dapat digunakan secara mandiri (Bambang: 2007).
Menurut Bambang (2007) ada tiga tujuan utama penulisan modul. Pertama, memperjelas dan mempermudah penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbal. Kedua, mengatasi keterbatasan waktu, ruang, dan daya indera, baik siswa maupun guru. Ketiga, dapat digunakan secara tepat dan bervariasi, seperti: meningkatkan motivasi dan gairah belajar bagi siswa;mengembangkan kemampuan peserta didik dalam berinteraksi langsung dengan lingkungan dan sumber belajar lainnya, memungkinkan siswa belajar mandiri sesuai kemampuan dan minatnya, dan memungkinkan siswa dapat mengukur atau mengevaluasi sendiri hasil belajarnya. Metoda pembelajaran dengan menggunakan modul ini meliputi belajar aktif bagian praktek, bagian tutorial, seminar dan kritik, dan belajar sendiri (Bower: 2002).
Melalui modul siswa mampu untuk menseleksi suatu daerah luas dari suatu pendekatan teknik kreativitas untuk penggunaan dalam situasi khusus untuk menghasilkan solusi. Disamping itu dengan modul siswa mampu untuk menunjukkan pengetahuan dan pengertian secara mendalam mendemonstrasikan keahlian khusus subjek menunjukkan keahlian kognitif, dan mendemonstrasikan keterampilan kunci pentransferan (Koberg: 2003).
Modul dapat dirumuskan sebagai suatu unit yang lengkap yang berdiri sendiri dan terdiri atas suatu rangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu siswa mencapai sejumlah tujuan yang dirumuskan secara khusus dan jelas. Modul disusun sedemikian rupa sehingga tujuannya jelas, spesifik, dan dapat dicapai oleh siswa. Dengan tujuan yang jelas usaha siswa terarah untuk mencapai tujuannya segera (Nasution: 2000).
Ada beberapa komponen penting dari modul belajar. Komponen tersebut meliputi informasi kunci, ringkasan modul, tujuan dari modul, outcome pembelajaran, gambaran iktisar dan sebagainya. Secara umum struktur modul terdiri dari dua bagian yaitu belajar dan latihan (workshop), belajar memperkenalkan pada prinsip dan konsep dasar, membantu siswa untuk men set kerja praktek dari modul dalam konteks, dan menjelaskan bahasa dan istilah yang relevan. Bagian praktek digunakan untuk mengembangkan keterampilan praktek yang diperlukan untuk sukses pada modul. Dalam workshop dipercaya untuk bereksperimen misalnya dengan hardware dan software menggunakan latihan dan anjuran yang disediakan (Rolfe: 2003).
Disisi lain, Sriyono mengemukakan unsur-unsur dari modul. Ada tujuh unsur dari modul yaitu: 1). Tujuan pengajaran yang telah dijelaskan secara jelas dan spesifik, yakni suatu tingkah laku yang diharapkan dan seharusnya telah dimiliki setelah menyelesaikan modul tersebut; 2). Petunjuk bagi guru, yakni menjelaskan bagaimana agar pengajaran dapat diselenggarakan secara efektif dan efisien; 3). Lembaran kegiatan siswa, yang memuat materi pelajaran yang harus dikuasainya; 4). Lembar kerja, yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan masalah yang harus dipecahkan; 5). Kunci lembar kerja, dengan tujuan agar siswa dapat mengoreksi atau mengevaluasi sendiri hasil pekerjaannya dan tetap aktif belajar; 6). Lembaran tes, berisi soal-soal atau masalah-masalah yang harus dikerjakan oleh siswa; dan 7). Kunci lembar tes, berguna untuk mengetahui seberapa jauh hasil studi yang telah diperoleh, kemudian mengoreksi, dan meningkatkannya.
Penggunaan pembelajaran elektronik dalam proses pembelajaran dapat memberikan manfaat baik bagi siswa maupun bagi guru. Manfaat dari segi siswa antara lain: mempermudah interaksi antara peserta didik dengan materi pelajaran, dapat saling berbagi informasi mengenai pelajaran, dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang, dapat berkomunikasi dengan guru. Dengan cara ini siswa dapat memantapkan penguasaannya terhadap materi pelajaran. Disisi lain manfaat dari sudut guru antara lain: lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar, mengembangkan diri dan meningkatkan wawasan, mengontrol kerja siswa, mengecek pekerjaan siswa, dan memeriksa jawaban siswa (Sudirman: 2001).
Modul pembelajaran elektronik Interaktif (Interactive E-Learning Module) adalah modul yang menyediakan bahan bantu mengajar secara elektronik atau yang lebih tepat melalui teknologi informasi dan komunikasi. Modul ini akan memberikan berbagai keuntungan dalam proses pembelajaran dan membantu guru-guru mengajar. Bagaimanapun ia bukanlah penyelesai bagi proses pembelajaran. Diharapkan melalui modul ini terdapat kesadaran tentang pentingnya untuk memperbaiki dan meningkaatkan proses pelaksanaa pengajaran dan pembelajaran di sekolah (Oonuni: 2005).
Modul pembelajaran secara elektronik yang dibangun bertujuan untuk membantu proses belajar baik di kelas dan di luar kelas. Pelajar tidak hanya memperoleh informasi melalui buku tetapi terus dengan mengakses halaman web yang berkenaan. Bagaimana pun, informasi ini juga boleh diperoleh melalui CD dan kedua-duanya dipersembahkan secara interaktif yang mengabungkan elemen-elemen multimedia. Multimedia merupakan gabungan lebih satu media dalam bentuk komunikasi yang terdiri dari teks, suara, grafik, animasi, video, ke dalam sistem komputer (Tri: 2006).
Modul Pembelajaran Elektronik Interaktif yang diperkenalkan ini hanya suatu alternatif, bagaimanapun sumber informasi boleh digarap untuk disampaikan secara elektronik kepada semua orang. Seperti siswa di dalam kelas, orang awam, pengajar dan sebagainya. Semua mereka ini boleh memperoleh informasi dan belajar di luar dari kelas formal yang biasa dan menjadi tradisi. Bagaimanapun nilai murni merupakan kelangsungan yang berlaku dalam pengajaran dan pembelajaran yang mungkin tanpa guru akan menyukarkan.
Modul pembelajaran elektronik interaktif mampu menyampaikan informasi dengan lebih menarik dan berkesan. Disamping itu dapat mempermudah penyampaian konsep kepada siswa. Penggunaan modul pembelajaran elektronik interaktif dalam pengajaran dan pembelajaran ternyata dapat membantu kecakapan siswa belajar untuk menguasai ilmu dan pengetahuan. Pelaksanaan pembelajaran dengan cara ini ternyata lebih mudah dan berkesan dengan guru sebagai fasilitator. Sementara itu, Poppy, Y (2007) menyatakan bahwa “Model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar anak dengan memanfaatkan teknologi adalah melalui e-learning”. Dari kutipan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran elektronik memberi pengaruh terhadap motivasi dan penguasaan siswa terhadap pengetahuan.
4. Hasil Belajar
Hasil belajar mencerminkan kemampuan siswa dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam suatu kompetensi dasar (Boediono: 2002). Tingkat kemampuan yang dituntut dari siswa setelah ia mempelajari kompetensi dasar tertentu ditunjukkan dengan berbagai perilaku hasil belajar. Penilaian hasil belajar digunakan untuk menilai kompetensi siswa, bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memprbaiki proses pembelajaran (Bambang: 2007). Dengan kata lain, kompetensi dapat diukur melalui hasil belajar siswa.
Penilaian hasil belajar dilaksanakan secara menyeluruh terhadap siswa, baik dari segi pemahamanya terhadap materi atau bahan pelajaran yang telah diberikan, maupun dari segi penghayatan dan pengalamannya. Hal ini sajalan dengan pendapat Nana (2002: 23) penilaian hasil belajar mencakup pada tiga ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Ketiga ranah tersebut diuraikan sebagai berikut :
a. Ranah kognitif, terdiri dari :
1) Pengetahuan, mencakup ingatan akan hal-hal pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan.
2) Pemahaman, mencakup kemampuan untuk menangkap makna danarti dari bahan yang dipelajari yang terbagi atas tiga kategori, yaitu pemahaman terjemahan, pemahaman penafsiran, dan pemahaman ekstrapolasi.
3) Aplikasi, mencakup kemampuan untuk menerapkan abstraksi (kaidah) berupa ide, teori, atau petunjuk teknis pada situasi konkrit.
4) Analisis, mencakup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik.
5) Sintesis, mencakup kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru dari unsur-unsur.
6) Evaluasi, meliputi kemampuan untuk memberi keputusan tentang nilai sesuatu berdasarkan sudut pandang tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, metode, material dan sebagainya.

b. Ranah afektif, terdiri dari :
1) Receiving (penerimaan), mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsang dan kesediaan untuk memperhatikan rangsangan. Contohnya: menerima, mengikuti, mematuhi, dll.
2) Responding (penanggapan), mencakup kemampuan memberikan reaksi terhadap stimulasi yang datang dari luar. Contohnya: mengungkapkan gagasan, menanggapi, memberi sanggahan, memberi pendapat, dll.
3) Valuing (penilaian), mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai dengan penilaian itu. Contohnya: mengusulkan, mengasumsikan, memperjelas atau menekankan, melengkapi, dll.
4) Organisasi, mencakup kemampuan untuk membentuk suatu sistem sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan. Contohnya: mau bekerja sama dan ramah pada teman, menyampaikan pendapat, mengklasifikasikan, dll.
5) Karakteristik nilai atau internalisasi nilai, mencakup kemampuan untuk menghayati nilai-nilai kehidupan sedemikian rupa, sehingga menjadi milik pribadi dan menjadi pegangan nyata dan jelas dalam mengatur kehidupannya sendiri. Contohnya: meneruh perhatian atu serius dalam belajar, mengubah perilaku, berakhlak mulia, dll.
Karena keterbatasan dari penelitian ini, maka indikator sikap yang akan diamati hanya meliputi: mau menerima (penerimaan), mengungkapkan gagasan (penanggapan), mau menjelaskan (penilaian), mampu menyampaikan pendapat (organisasi) dan menaruh perhatian atau serius dalam belajar.
c. Ranah psikomotorik, terdiri dari :
1) Persepsi, mencakup kemampuan mengadakan diskriminasi yang tepat antara dua perangsang atau lebih, berdasarkan pembedaan antar ciri-ciri fisik yang khas pada masing-masing rangsangan.
2) Kesiapan, mencakup kemampuan untuk menempatkan dirinya dalam keadaan memulai suatu gerakan atau rangkaian gerakan.
3) Gerakan terbimbing, mencakup kemampuan melakukan gerak-gerik, sesuai dengan contoh yang diberikan.
4) Gerakan yang terbiasa, mencakup kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerak-gerik dengan lancar.
5) Gerakan kompleks, mencakup kemampuan untuk melaksanakan suatu keterampilan.
6) Penyesuaian, mencakup kemampuan untuk mengadakan perubahan dan menyesuaikan pola gerak-gerik dengan kondisi setempat.
7) Kreatifitas, mencakup kemampuan untuk melahirkan pola gerak-gerik yang baru, seluruhnya atas prakarsa dan inisiatuf sendiri.
Hasil belajar dapat diukur dengan ujian tertulis dan dengan ujian lisan serta gabungan ujian tertulis dan lisan. Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nilai akhir yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar.
Penilaian pada ranah kognitif dilakukan pada akhir pembelajaran dengan dengan pemberian tes akhir. Hasil belajar yang diperoleh dari tes yang dilaksanakan dapat berupa tes tertulis.
Penilaian pada ranah afektif dilakukan selama proses belajar mengajar dengan mengacu pada indikator penilaian ranah afektif. Indikator penilaian ranah afektif tersebut dapat dilihat pada format ranah penilaian afektif berikut:
Tabel 1. Contoh format penilaian ranah afektif siswa :
No Nama siswa Indikator Penilaian
Menerima Menanggapi Menjelaskan Menyampaiakan pendapat Keseriusan

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Pedoman penskoran:
4 : selalu
3 : sering
2 : kadang-kadang
1 : tidak pernah

Hasil belajar yang akan diteliti dalam penelitian berupa hasil belajar yang dibatasi pada ranah kognitif dan afektif.
B. Kerangka Berpikir
Berdasarkan kajian teoritis yang telah disusun dapat dilukiskan kerangka berfikir dari penelitian ini. Kerangka berfikir adalah keterkaitan antara variabel-variabel penelitian. Dengan dasar ini kerangka berpikir dari penelitian ini dilukiskan oleh skema berikut:

Proses pembelajaran dapat dibantu dengan menggunakan modul. Penelitian ini mengembangkan modul elektronik Fisika bilingual yang digunakan dalam pembelajaran berbasis KTSP dengan menggunakan metoda ceramah, diskusi dan tanya jawab. Hasil belajar yang baik diharapkan dapat tercapai dengan menerapkan modul ini di dalam pembelajaran.
C. Perumusan Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian teoritis dan kerangka berfikir dapat dirumuskan hipotesis kerja dari penelitian ini. Sebagai hipotesis kerja penelitian yaitu: ”Terdapat pengaruh berarti dari penggunaan modul elektronik Fisika bilingual dalam pembelajaran berbasis KTSP menggunakan metoda ceramah, diskusi dan tanya jawab pada siswa kelas X Internasional di SMA Negeri 3 Padang.”

BAB II
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Sesuai dengan permasalahan penelitian, maka jenis penelitian yang dipakai adalah penelitian eksperimen. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah Randomized Control Group Only Design yang digambarkan pada tabel berikut:
Bagan Desain Penelitian
Kelompok Perlakuan Tes Akhir
Eksperimen X T
Kontrol – T

Keterangan:
X: Perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen yaitu penggunaan modul belajar elektronik Fisika dalam pembelajaran berbasis KTSP dengan strategi penemuan terbimbing.
T: Tes akhir (tes hasil belajar) yang diberikan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah pemberian perlakuan.
B. Populasi Dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Internasional SMA Negeri 3 Padang. Pada SMAN 3 ada 2 kelas X internasional, yaitu kelas X1 dan X2. Masing– masing kelas mempunyai jumlah siswa sebanyak 30 orang.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi dimana sampel harus representatif artinya karaktereristik populasi tercermin dalam sampel yang diambil. Pengambilan sampel menggunakan cluster sampling. Metode pengambilan cluster (cluster sampling) adalah metode yang digunakan untuk memilih sampel dari beberapa kelompok dimana setiap kelompok terdiri atas beberapa unit yang lebih kecil. Jumlah elemen dari masing-masing kelompok bisa sama maupun berbeda. Salah satu kelompok diambil sebagai sampelnya. Jadi generalisasi sesungguhnya hanya pada cluster tersebut. Sebagai sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas X1 dan X2.
C. Variable dan Data
1. Variabel
Variabel dari penelitian ini terdiri dari tiga variabel, yaitu variabel bebas, variabel terikat dan variabel kontrol.
a. Variabel bebas yaitu penggunaan modul belajar elektronik Fisika dalam pembelajaran berbasis KTSP.
b. Variabel terikat yaitu hasil belajar siswa bidang kognitif dan afektif, setelah di berikan perlakuan.
c. Variabel kontrol adalah materi pelajaran, guru dan kurikulum.
2. Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer yaitu data yang langsung diperoleh dari subjek yang diteliti. Dalam hal ini data primer adalah hasil belajar Fisika siswa kelas sampel.
D. Instrument Pengumpul Data
Data pada penelitian ini di ambil melalui instrument penelitian. Instrument penilaian yang di gunakan adalah penelitian ranah kognitif dan afektif.
1. Uji instrumen ranah kognitif
Untuk memperoleh data dalam penelitian ini maka di berikan tes kepada kelas sampel. Agar di dapatkan tes yang benar-benar valid terlebih dahulu di lakukan uji coba kemudian di tentukan reliabilitasnya, taraf kesukarannya dan daya beda soal.
Dari hasil uji coba di lakukan analisis soal yang mencakup :
a. Validitas
Validitas suatu tes sangat diperlukan untuk memperoleh data yang akurat, karena sebuah tes dikatakan valid jika hasilnya sesuai dengan kriteria. Validitas yang dihitung adalah validitas isi. Menurut pendapat Suharsimi (2005: 67) “Tes dikatakan memenuhi validitas isi apabila tes dapat mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi/isi pelajaran yang diberikan”. Oleh sebab itu dalam penyusunan soal ini harus berpedoman pada kurikulum yang sesuai dengan materi pelajaran fisika.
b. Reliabilitas
Reliabilitas adalah ketetapan suatu tes apabila tes digunakan kepada subyek yang sama. Reliabilitas dapat dihitung dengan menggunakan rumus Kuder dan Richardson (KR-20) seperti yang dikemukakan oleh Suharsimi (2005: 100) yaitu :
……………….………………(2)

Keterangan :
r11 : Koefisien reliabilitas tes
n : Jumlah butir soal
1 : Bilangan konstan
p : Proporsi peserta tes menjawab benar
q : Proporsi yang menjawab salah (q = 1 – p )
: Jumlah perkalian antara p dan q
S2 : Varians total
Reliabilitas suatu tes dapat dibedakan atas beberapa tingkat. Klasifikasi tingkat validitas suatu tes dapat diperhatikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Klasifikasi indeks reliabilitas soal
No Indeks Reliabilitas Klasifikasi
1. 0,0 – 0,2 Sangat rendah
2. 0,2 – 0,4 Rendah
3. 0,4 – 0,6 Sedang
4. 0,6 – 0,8 Tinggi
5. 0,8 – 1,0 Sangat tinggi

c. Indeks Kesukaran
Tingkat kesukaran soal merupakan bilangan yang menunjukkan sukar atau mudahnya suatu soal. Rumus yang digunakan seperti yang tercantum dalam Suharsimi (2005 :208) yaitu :
………………………….………………..………….…..(3)
Keterangan :
P : Tingkat kesukaran
B : Jumlah siswa yang menjawab dengan benar
Js : Jumlah seluruh peserta tes
Menurut Anas (2006: 372) cara memberikan interpretasi terhadap angka indek kesukaran item, dapat diklasifikasikan seperti ditampilkan pada tabel 3.
Tabel 3. Klasifikasi tingkat kesukaran soal
No Indeks kesukaran Klasifikasi
1. 0,0 – 0,3 Sukar
2. 0,3 – 0,7 Sedang
3. 0,7 – 1,0 Mudah

d. Daya Beda
Daya beda soal adalah suatu indikator untuk membedakan antara siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai. Rumusnya adalah :
……………………………………………………….(4)
Keterangan :
D : Daya beda
Ba : Jumlah kelompok atas yang menjawab benar
Bb : Jumlah kelompok bawah
Ja : Jumlah kelompok atas
Ba : Jumlah kelompok bawah
Menurut Anas (2006: 389) cara memberikan interpretasi terhadap angka indek daya beda soal, dapat diklasifikasikan seperti ditampilkan pada tabel 4.
Tabel 4. Klasifikasi indeks daya beda soal
No Indeks data beda Klasifikasi
1. 0,0 -0,2 Jelek
2. 0,2-0,4 Cukup
3. 0,4-0,7 Baik
4. 0,7-1,0 Baik sekali
5. Minus Tidak baik

2. Penilaian ranah afektif
Pada ranah afektif yang dinilai adalah sikap siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Format penilaian aspek afektif adalah sebagai berikut :
Tabel 4 Format Penilaian Ranah Afektif :
No Nama siswa Indikator Penilaian
Menerima Menanggapi Menjelaskan Menyampaiakan pendapat Keseriusan

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Ada empat ketegori yang digunakan untuk menentukan penilaian ranah afektif yaitu :
1 : Tidak pernah
2 : Kadang-kadang
3 : Sering
4 : Selalu
E. Prosedur Penelitian
Secara umum prosedur penelitian dapat dibagi atas tiga bagian, yaitu:
1. Tahap persiapan
a. Menetapkan tempat penelitian di SMA Negeri 3 Padang.
b. Mengurus izin penelitian di Dinas Pendidikan Kota Padang.
c. Menetapkan jadwal penelitian yaitu dari tanggal
d. Menentukan populasi dan sampel
e. Mempersiapkan silabus dan rencana pembelajaran
f. Menyusun materi penelitian
g. Mempersiapkan instrument penelitian
2. Tahap Pelaksanaan
Pelaksanaan pembelajaran pada kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sama dalam segi materi. Kedua sampel hanya dibedakan dalam modul elektronik.
Untuk kelas eksperimen langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan disesuaikan dengan langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan metoda ceramah, diskusi dan tanya jawab disertai penggunaan modul elektronik Fisika bilingual. Secara lebih rinci kegiatan pembelajaran pada setiap bagian adalah sebagai berikut:
a. Kegiatan Pendahuluan

No Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
1) Memberikan pretest Mengerjakan pretest
2) Menyajikan prasyarat pengeta- huan yang diperlukan, dan menyampaikan judul dan tujuan pembelajaran Mendengarkan dan memikirkan
3) Memberikan motivasi dan apersepsi kepada siswa berdasarkan panduan belajar Menanggapi pertanyaan guru dan bertanya pada guru
b. Kegiatan Inti
1) Guru menjelaskan informasi materi pada seluruh kelas dengan menggunakan modul elektronik fisika bilingual Memperhatikan
2) Guru memberikan tugas dalam kelompok kecil menggunakan modul elektronik fisika bilingual. Melakukan diskusi dalam kelompok, mempersiapkan jawaban, dan melaporkan pada seluruh kelas
3) Monitoring guru dengan cara guru memonitor untuk memastikan bahwa semua siswa mengerti terhadap tugas yang diberikan Bertanya pada guru dan menjelaskan pertanyaan guru
4) Memandu penjelasan secara simultan Melakukan interaksi dengan kelompok yang berdekatan
5) Membimbing diskusi kelas Anggota dari beberapa kelompok berbeda diseleksi secara random untuk menjelaskan bagaimana pemecahan masalah kelompoknya.
6) Tindak lanjut (follow-up) Masing-masing kelompok menulis laporan diskusi mereka.
c. Kegiatan Penutup
1) Membimbing siswa mengam- bilkan kesimpulan Berusaha menyimpulkan materi yang telah dipelajari
2) Melaksanakan posttest untuk setiap pokok bahasan Menjawab posttest pada kertas yang telah disediakan
3) Menginformasikan tugas baca untuk materi berikutnya Mendengarkan keterangan guru
Disisi lain untuk kelas kontrol langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan sama dengan kelas eksperimen tetapi tidak menggunakan modul elektronik Fisika bilingual. Jadi perbedaan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol terletak pada penggunaan modul elektronik fisika bilingual.
3. Tahap Penyelesaian
Pada tahap ini yang dilakukan peneliti adalah :
a. Mengadakan tes pada kedua kelas sampel di akhir jadwal penelitian guna mengetahui hasil perlakuan yang dilakukan.
b. Mengolah data dari kedua sampel, baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol.
c. Menarik kesimpulan dari hasil yang diperoleh sesuai dengan teknik analisis yang digunakan.
F. Teknik Analisis Data
Analisis terhadap data penelitian dilakukan bertujuan untuk menguji kebenaran hipotesis yang diajukan dalam penelitian. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis induktif. Analisis deskirptif dilakukan untuk menentukan rata-rata dan simpangan baku kedua sampel. Disisi lain analisis induktif dilakukan untuk melihat apakah perbedaan dua rata-rata kelas sampel berarti.
Untuk melakukan uji kesamaan (perbedaan) dua rata-rata terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas yang diuraikan sebagai berikut :
1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah kedua kelompok data berdistribusi normal atau tidak, digunakan uji Liliefors. Sudjana (2002: 466) merumuskan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Data X1, X2, X3,… Xn yang diperoleh dari data yang terkecil hingga data terbesar
b. Data X1, X2, X3,… Xn dijadikan bilangan baku Z1, Z2, Z3,… Zn dengan rumus:
………………………………………..………………………..(5)
Keterangan :
Xi = Skor yang di peroleh siswa ke 1
= Skor rata-rata
S = Simpangan baku
c. Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian di hitung peluang F(Zi) = P (Z < Zi)
d. Dengan menggunakan proporsi Z1, Z2, Z3,… Zn yang lebih kecil atau sama dengan Zi, jika proporsi ini di nyatakan dengan S(Zi), maka :
…………………………….…..(6)
e. Menghitung selisih F(Zi) – S(Zi) yang kemudian tentukan harga mutlaknya.
f. Mengambil harga yang paling besar di antara harga mutlak selisih tersebut yang dengan disebut Lo.
g. Membandingkan nilai Lo dengan nilai kritis A yang terdapat pada taraf nyata α = 0,05. Kriteria penerimaannya adalah hipotesis tersebut normal jika Lo lebih kecil dari A. Selain itu ditolak.
2. Uji homogenitas
Uji homogenitas bertujuan untuk melihat apakah kedua kelompok data mempunyai varians yang homogen atau tidak. Cara yang dapat digunakan untuk mencari homogen dengan uji F. uji ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Mencari varians masing-masing data kemudian di hitung harga F dengan rumus :
…………………………………………………….…..(7)
Keterangan :
F = Varians kelompok data
= Varians hasil belajar kelas eksperimen
= Varians hasil belajar kelas kontrol
Jika harga sudah didapatkan maka dibandingkan F tersebut dengan harga F yang terdapat dalam daftar distribusi F dengan taraf signifikan 5% dan dk pembilang n1 – 1 dan dk penyebut n2 -1. Jika F yang didapat dari perhitungan lebih kecil dari pada F yang ada pada tabel maka kedua kelompok data memiliki varians homogen (Sudjana: 2002:249).
3. Uji hipotesis
Uji hipotesis dilakukan untuk melihat apakah terdapat perbedaan hasil belajar pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil uji normalitas menimbulkan beberapa kemungkinan :
a. Jika (varian homogen) dan populasi terditribusi normal, maka dalam pengujian hipotesis statistik yang digunakan adalah uji t dengan rumus yang dikemukakan oleh Sudjana (2002: 239) sebagai berikut:
………………………………………………………………..(8)
……………………………….…….(9)
Keterangan :
: Nilai rata-rata kelas eksperimen
: Nilai rata-rata kelas kontrol
S : Simpangan baku gabungan
S1 : Standar deviasi kelas eksperimen
S2 : Standar deviasi kelas kontrol
n1 : Jumlah siswa kelas eksperimen
n2 : Jumlah siswa kelas kontrol
Kriteria pengujian yang digunakan sebagaimana yang dikemukakan Sudjana (2002: 239) adalah terima Ho jika –t(1-0.5 ) < t < t(1-0.5 ) di mana t(1-0.5 ) didapat dari daftar distribusi t dengan derajat kebebasan (dk) = (n1 + n2 -2) dan peluang (1- )pada taraf signifikan 0.05, untuk harga lainnya tolak Ho.
b. Jika data terdistribusi normal dan kedua kelompok data tidak mempunyai varians yang homogen maka dilakukan uji t’ denga rumus :
……………………………………………………………………….(10)
Kriteria pengujian terima Ho adalah :
< t < ………………………………………….(11)
Dimana :
W1 =
t1 =
t2 =
c. Jika data tidak terditribusi normal dan kedua kelompok data tidak mempunyai varians yang homogen, maka dilakukan uji Mann Whitney atau uji U sebagai berikut:
Uji yang di gunakan seperti yang di rumuskan oleh Darwanto (2002: 38) :
U untuk sampel yang pertama :
……………………………………(12)
U untuk sampel yang kedua :
……………………………….…(13)
Dari kedua nilai U tersebut yang di gunakan adalah nilai U yang lebih kecil, karena sample lebih dari 20 maka di gunakan pendekatan kurva normal dengan mean:
E(U) = …………………………………………………………………….(14)
Standar deviasi di berikan dalam bentuk
…………………..………………………..…(15)
Nilai standar di hitung dengan :
Z = …………………………………………………………(16)
Kriteria pengambilan keputusan adalah Ho di terima apabila , jika kriteria tersebut tidak terpenuhi maka Ho di tolak.

Kategori:Makalah
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: