Beranda > Artikel > PEMBELAJARAN PERUBAHAN TINGKAH LAKU ANAK

PEMBELAJARAN PERUBAHAN TINGKAH LAKU ANAK

PEMBELAJARAN PERUBAHAN TINGKAH LAKU ANAK AUTIS
MENJELANG MASUK PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR

Abstrak: Tingkah laku anak autis berbeda dengan anak normal. Oleh karena itu perlu diterapi agar bisa seperti anak normal lainnya. Sebelum mendapatkan pembelajaran PKn di sekolah dasar, anak autis terlebih dahulu mendapatkan pembelajaran perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku tersebut antara lain perilaku hiperaktif maupun perilaku pasif dinormalkan dan pembelajaran dengan pendampingan dialihkan menjadi pembelajaran mandiri. Begitu pula pembelajaran dengan model individual secara berangsur-angsur diarahkan ke pembelajaran klasikal. Apabila perubahan tingkah laku sudah dianggap memadai anak tingkat sekolah dasar kelas satu, anak autis baru bisa diberi pembelajaran PKn SD, untuk pesiapan masuk SD inklusi.

Kata kunci :
pembelajaran, perubahan tingkah laku, autis, sekolah dasar.

Dengan adanya peraturan pemerintah tentang standart nasional yang diatur dalam peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 anak yang berkelainan khusus seperti halnya anak autis mendapat perlindungan hukum, dalam hak-haknya untuk mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak normal lainnya (Syamsudi, 2006). Pada umumnya belum semua masyarakat seperti orang tua, para terapis, guru, bahkan pakar pendidikan pun memahami karakter anak autis. Oleh sebab itu, wajar apabila penanganannya juga masih belum benar. Seperti kita ketahui bersama, bahwa tidak sedikit orang tua dari anak autis yang tetap memaksakan kehendaknya untuk menyekolahkan anaknya ke SD umum, dengan alasan syarat umur anaknya sudah memenuhi masa sekolah. Sebenarnya mereka juga merasa bahwa anaknya mempunyai kelainan khusus, namun tidak begitu memahami penyebab kelainan pada anak tersebut. Lebih-lebih orang tua yang tinggal di pedesaan maupun pedalaman. Begitu pula guru, terutama guru SD juga tidak semua memahami kelainan yang dialami oleh siswa dikelasnya. Sebagai contoh jika ada anak yang hiper aktif dianggap sebagai siswa paling nakal dan paling membandel. Sebaliknya, jika ada siswa yang pasif dianggap anak pendiam bahkan jika siswanya yang sulit berbicara dianggap bisu walaupun tidak tuli.
Anak-anak yang berkelainan khusus perlu disekolahkan di sekolah autis agar mendapat terapis terlebih dahulu sampai bisa mendekati seperti anak normal (Autism Society of American 2000). Namun demikian tidak semua orang tua, guru, terutama guru SD mengetahui ciri-ciri anak autis, sehingga tidak salah jika ada anggapan seperti di atas.
Dalam penanganan anak berkebutuhan khusus, anak autis mendapat perlindungan hukum dari pemerintah sehingga apabila sudah diterapi di sekolah autis, berhak melanjutkan sekolah ke SD inklusi. Anak autis baru bisa masuk SD biasanya belum bisa menyamai anak SD pada umumnya, sehingga perlu waktu untuk menyesuaikan dan belum semua guru memahami karakter anak autis (Quill, tanpa tahun).
Oleh sebab itu, dengan adanya tulisan ini, diharapkan bisa untuk membantu untuk mensosialisasikan karakter maupun penyebab terjadinya gangguan autis agar lebih dipahami guru-guru SD yang sedang ditempati, maupun akan ditempati anak autis. Begitu pula bagi orang tua anak autis, para terapis, bahkan para pemerhati autis, diharapkan agar lebih mudah mencari solusi dalam menangani kelainan-kelainan tersebut. Tulisan ini juga ditujukan pada para terapis agar tahu bahwa anak autis sebelum masuk SD kelas satu dan setelah mendapatkan pembelajaran perubahan tingkah laku, supaya dipersiapkan dengan pembelajaran PKn setingkat SD, agar kelak sudah tidak asing lagi dengan pembelajaran PKn.

PENGERTIAN DAN CIRI-CIRI ANAK AUTIS
Istilah autisme berasal dari kata “autos” yang berarti sendiri, dan “Isme” yang berati aliran. Dengan demikian autisme berarti suatu paham yang tertarik pada dunianya sendiri. Sedangkan autistik adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks seperti komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi (Lovaas, O.I. 1991).
Autis bukan penyakit menular, tetapi merupakan sekumpulan gejala klinis atau sindrom yang dilatarbelakangi oleh berbagai faktor yang unik, dan saling berkaitan satu sama lain. Dikatakan unik karena memiliki kekhususan tersendiri seperti gangguan spectrum autisme (autism spectrum disoders) yang identik dengan gangguan perkembangan perpasif (Shaw, William; tanpa tahun).
Sedangkan gejala atau cirri-ciri anak yang tergolong autis cukup banyak. Gejala tersebut diantaranya (1) kurang mampu berbicara dan sulit berkomunikasi dengan orang lain; (2) sulit mengungkapkan keinginannya sehingga suka sekali menarik tangan orang lain, atau menunjuk-nunjuk keinginannya; (3) suka membeo (echolalia) atau sebaliknya jika ditanya tidak menjawab tetapi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya; (4) suka menangis, marah, tertawa tanpa diketahui sebabnya; (5) sulit bermain dengan teman sebayanya; (6) tidak responsive bila diajak berbicara seakan tidak mendengar walaupun tidak tuli; (7) tidak responsif terhadap metode pembelajaran dari terapis/guru; (8) tidak suka dipeluk atau memeluk orang lain; (9) suka menyendiri dan cuek terhadap lingkungan sekitarnya; (10) takut pada benda, suara atau suasana tertentu; (11) kontak mata sangat kurang; (12) tidak sensitif atau sebaliknya sangat sensitif terhadap rasa sakit; (13) tidak mengenal bahaya apapun; (14) kemampuan motorik kurang bisa berkembang; (15) suka mengulangi gerakan yang tanpa tujuan; misalnya jinjit-jinjit, memukuli kepala, tepuk-tepuk tangan, mata melirik dan berkedip, main jari tangan, memegang kemaluannya, dan memasukkan benda ke mulutnya; (16) suka mengamuk jika keinginannya tidak terpenuhi; (17) lekat pada benda tertentu; seperti bantal, guling, gambar pada majalah; (18) menutup telinga jika mendengar suara tertentu; (19) cara bermain tidak wajar seperti suka menumpuk, suka membuang-buang; (20) suka memutar-mutar benda; (21) mempertahankan rutinitas sehingga sulit menyesuaikan diri dengan perubahan dan (22) hiperaktif atau sebaliknya sangat pasif (Yuniar, 2006).
Dua puluh dua gejala seperti yang disebutkan di atas biasanya tetap terlihat di manapun anak autis berada yang berbeda dengan tingkah laku anak seusianya. Namun demikian setiap anak mempunyai variasi gejala yang berbeda-beda. Sedangkan secara klinis diangnosis autisme tampak adanya empat gejala seperti (1) kurangnya kemampuan interaksi sosial dan emosional; (2) kurangnya komunikatif timbal balik; (3) minat yang terbatas disertai dengan gerakan berulang-ulang tanpa tujuan; dan (4) respon sensorik yang menyimpang (Maurice C, 1993).

PEMBELAJARAN PERUBAHAN TINGKAH LAKU PADA ANAK SEKOLAH AUTIS MENJELANG MASUK SEKOLAH DASAR

Pembelajaran di sekolah autis, khususnya pembelajaran PKn di sekolah autis berbeda dengan pembelajaran PKn di sekolah dasar. Perubahan tingkah laku diawali dari tahap dini, tahap menengah, dan tahap lanjut atau mahir. Setelah melalui terapis dalam tiga tahapan di atas, anak autis berhak mendapatkan wadah untuk meneruskan sekolah di SD inklusi. Pengertian inklusi di sini sama dengan pengertian terpadu, sedangkan pendidikan inklusi adalah pendidikan yang menempatkan anak autis yang berkebutuhan khusus belajar di sekolah umum/reguler (Samsudi, 2006). Dengan demikian SD inklusi adalah SD yang ditunjuk untuk menerima anak-anak autis/SLB setelah mendapatkan terapi secara matang.
Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa tingkatan atau skala anak autis terdiri dari tiga tingkatan yaitu (1) tingkatan dini; (2) tingkatan menengah; dan (3) tingkatan lanjut/mahir. Setelah melalui tiga jenjang tersebut diharapkan anak autis sudah mendapatkan pembelajaran perubahan tingkah laku dengan baik. Perubahan tingkah laku yang dimaksud adalah (1) perilaku hiperaktif dihilangkan; (2) perilaku pasif ditingkatkan agar lebih aktif; (3) perilaku dengan pembelajaran pendampingan diupayakan agar anak tidak didampingi lagi tetapi bisa mandiri; (4) pembelajaran dengan model individual secara berangsur-angsur ditinggalkan dan dibiasakan dengan pembelajaran model klasikal dan regular (Berkow, 1987).
Contoh pembelajaran perubahan tingkah laku pada anak autis pada level/ tingkatan dini, menengah dan lanjut/ mahir dengan pokok bahasan hormat menghormati. Contoh pembelajaran dengan pokok bahasan hormat menghormati untuk anak pada level dini. Jika ketemu orang dibiasakan untuk menyapa walaupun belum mengenal sebelumnya. Caranya dengan mengucapkan selamat pagi, selamat siang, selamat malam yang disesuaikan dengan waktu atau mengucapkan salam Assalamu’alaikum. Hal seperti ini dibiasakan secara terus menerus yang di dampingi oleh terapis, sampai bisa melakukan dengan sendirinya tanpa ada terapis di sampingnya. Begitu pula kepada orang tua atau keluarga yang mengantarkan sekolah. Dengan didampingi oleh terapis anak tersebut dibiasakan pamit pada orang tua sebelum masuk kelas.
Sedangkan di level menengah, jika lewat di depan orang atau terapis selalu dibiasakan mengucapkan permisi sambil sedikit merunduk dan jika melakukan kesalahan di biasakan untuk meminta maaf yang di dampingi oleh terapis secara terus menerus sampai bisa melakukan sendiri tanpa pendamping/ terapis.
Begitu pula untuk anak di level lanjut/mahir, anak di tingkat mahir sudah mulai meninggalkan pembelajaran dengan model individual tetapi secara bertahap dibiasakan dengan pembelajaran klasikal. Contoh pembelajaran dengan pokok bahasan hormat menghormati, anak mengangkat tangan bila akan mengajukan pertanyaan atau menjawab pertanyaan. Jadi tidak perlu datang menghadap guru, tetapi tetap duduk di bangkunya sambil mengacungkan tangan. Contoh lain anak dibiasakan mau merespon ajaan bermain temannya jika waktu istirahat, begitu juga sebaliknya mengajak bermain teman dengan sapaan yang baik atau isyarat yang sopan. Diharapkan waktu anak akan memasuki SD Inklusi, anak sudah dibiasakan tidak hiper aktif, tidak pasif, tidak tergantung dengan pendamping secara terus menerus dan biasa belajar dalam kelas klasikal, sehingga anak siap untuk menerima pembelajaran PKn SD.
Anak-anak autis yang sudah dianggap matang sampai level lanjut/ mahir dibiasakan berani menghadapi guru di depan kelas dan dibiasakan bersosialisasi dengan teman-teman lain yang telah dipersiapkan untuk masuk ke sekolah dasar. Oleh karena itu pembelajaran secara klasikal perlu diberikan setiap hari dan materi PKn SD sudah mulai bisa diberikan sehingga waktu memasuki SD sudah tidak asing lagi. Berikut adalah pengintegrasian perubahan tingkah laku anak autis dalam pembelajaran PKn mulai tingkat/ level dini, menengah dan lajut seperti dalam tabel dibawah ini:

Tabel 1

Pengintegrasian Perubahan Tingkah Laku Anak Autis
Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Menjelang Masuk Sekolah Dasar

No Level Pokok Bahasan Uraian Materi Nilai Perubahan Tingkah Laku Media/ Metode
1 Awal/Dini
• Hormat Menghormati • Membalas sapaan orang lain
• Menyapa orang lain yang ditemuinya
• Memberi salam
• Berpamitan bila akan berpisah Sopan santun dan hormat • Kartu bergambar
• ABA
• Kerapian • Memakai sepatu dan ka-os kaki
• Menggosok gigi
• Mencuci tangan
• Bersih dan rapi
• Benda kongkrit
• Kartu bergambar
• ABA
• Keberanian dan Kebanggaan
• Menyebutkan nama anggota keluarga
• Menyebutkan alamat rumah
• Menyebutkan nomor rumah
• Berani dan tanggung jawab
• Foto keluarga
• Kartu nama
• Kartu alamat
• ABA/DTT
• Ketertiban
• Melakukan perintah guru dan orang tua
• Berangkat dan pulang sekolah sesuai dengan jam yang ditentukan
• Taat dan patuh
• Fleksibel
• ABA/DTT
• Belas kasih
• Menyayangi orang lain
• Menjenguk teman yang sakit
• Rasa kasih sayang
• VCD
• Kartu Bergambar
• ABA 2 Mene-ngah
• Hormat menghormati
• Mengatakan permisi/dengan isyarat bila lewat didepan orang lain/kerumunan
• Menghar-gai orang lain • VCD
• Fleksibel
• ABA/DTT
• Mengatakan/menunjuk pada benda atau sesuatu yang diinginkan
• Meminta maaf bila melakukan kesalahan
• Kerapian
• Memakai pakaian dengan rapi
• Menyisir rambut
• Menggunakan tissu Rapi itu indah
• Benda kongkrit
• ABA
• Keberanian dan kebanggaan
• Mempekenalkan diri di depan kelas
• Menceritakan dengan sederhana tentang pekerjaan orang tua Berani dan rasa memiliki
• Contoh dari guru
• ABA
• Ketertiban • Menyelesaikan tugas dengan mandiri
• Duduk dengan tenang disaat belajar Tata Tertib • Membiasakan setiap hari
• ABA/DTT
• Belas kasih • Bertanya bila ada teman yang bersedih
• Membantu teman yang membutuhkan Tolong menolong • Contoh dari guru
• ABA
3 Lanjut/Mahir • Hormat menghormati • Mengangkat tangan bila bertanya atau menjawab pertanyaan
• Meminta bantuan pada orang lain dengan kalimat yang sopan
• Merespon ajakan main teman
• Mengajak teman bermain dengan kalimat sederhana maupun isyarat Santun dalam bersikap • Kartu bergambar
• Membisa-kan setiap hari
• ABA/DTT
• Kerapian • Memakai asesoris dengan benar
• Merapikan meja makan
• Menyiapkan perlengkapan sekolah Kerapian dan keindahan • Membiasa-kan setiap hari
• Kartu Bergambar
• ABA/DTT

• Keberanian dan kebanggaan • Berkenalan
• Mengatakan jangan dengan isyarat bila ada yang mengganggu
• Bercerita tentang guru sekolahnya Berani dan tegas • Kartu bergambar
• ABA/DTT
• Ketertiban • Tidak mengganggu teman
• Latihan antri/bergiliran Mematuhi Tata tertib • Membiasakan setiap hari
• ABA/DTT
• TACHC
• Belas kasih • Berbagi dengan sasama
• Mengekspresikan emosi sesuai dengan situasi dan kondisi
Kasih sayang antar sesama • Membiasakan setiap hari
• ABA/DTT
• Hidup Hemat • Tidak membuang makanan
• Makan secukupnya
• Hemat menggunakan air
• Menabung Hemat pangkal kaya dan sederhana • Membiasakan setiap hari
• ABA/DTT
Disusun oleh team terapis sekolah autis UM, 2004


METODE PEMBELAJARAN PERUBAHAN TINGKAH LAKU ANAK AUTIS

Selain metode yang digunakan di atas ada beberapa metode lain yang digunakan dalam pembelajaran perubahan tingkah laku oleh para terapis diberbagai negara untuk anak Gangguan Spektrum Autisme (GSA). Antara lain (1) metode Treatmen and Education of Autisme and Comunication Handicap fed Children (TACHC); (2) Applaed Behavior Analysis (ABA); (3) Pictures Exchange Comunidcation Symbols (PECS); (4) Computer Pictograph for Communication/COMPIC (Maurice C, 1996)
Dari empat macam metode di atas bisa dilakukan secara murni atau kombinasi yang disesuaikan dengan kemampuan siswa. Namun kebanyakan metode yang digunakan adalah metode ABA yang dilaksanakan dengan cara Deserete Trial Training (DTT). Penggunaan metode tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi anak beserta lingkungannnya (Maurice C, 1996)
Kurikulum anak terapis, sampai saat sekarang belum tersusun secara baku. Hal tersebut disebabkan begitu sulitnya menyusun kurikulum yang berangkat dari kondisi dan kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Kurikulum anak autis berbeda dengan anak normal di SD umum/reguler. Kurikulum anak normal bisa didasarkan pada tingkat perkembangan dan usia anak sehingga dari anak tingkat sekolah dasar kelas rendah sampai kelas tinggi bisa diprediksikan hampir sama, sehingga tidak sesulit kurikulum anak autis yang karakternya bermacam-macam.
Sedangkan media untuk pembelajaran perubahan tingkah laku maupun PKn yang digunakan di sekolah autis juga banyak ragamnya antara lain, kartu bergambar, benda konkret, foto keluarga, binatang kartu telpon, VCD, guru, tape recorder, televisi dapat dipilih yang relevan dengan kondisi anak dan lingkungan alam sekitarnya.
Alat evaluasi anak autis lebih ditekankan pada keberhasilan perubahan perilakunya, sehingga hampir sama atau menyamai anak SD dalam kelasnya. Oleh karena itu contoh dari perilaku guru dan terapis cukup besar pengaruhnya terhadap keberhasilan perubahan perilaku anak autis yang masuk SD inklusi.
Hal lain yang perlu diperhatikan jenis makanan yang bisa mempengaruhi kestabilan emosional anak autis seperti tepung terigu, makanan yang mengandung pengawet, makanan yang mengandung penyedap rasa, sayur yang mengandung pestisida dan sebagainya, merupakan makanan pantangan bagi anak autis. Makanan yang berpantangan tersebut bisa merubah tingkah laku anak yang semula sudah mulai stabil/normal bisa kembali menjadi hiperaktif dan sebaliknya. Oleh karena itu makanan untuk anak autis sebaiknya harus lebih mendapat perhatian.

SIMPULAN

Pembelajaran perubahan tingkah laku pada anak sekolah autis berbeda dengan pembelajaran PKn pada anak normal di sekolah dasar, walaupun usianya sudah sama atau melebihi anak sekolah dasar.
Tingkah laku anak autis yang memiliki kekhususan tersendiri dinormalkan lebih dahulu. Anak yang hiperaktif maupun yang pasif di terapis hingga bisa menjadi normal atau mendekati normal. Begitu pula kebiasaan yang selalu mendapatkan pendampingan, tahap demi tahap ditinggalkan sehingga bisa mandiri tanpa bantuan pendamping lagi. Model pembelajaran individual juga ditinggalkan dan dilatih dengan model pembelajaran klasikal. Apabila anak autis sudah bisa merubah perilaku di atas dan sudah mampu mandiri tanpa pendamping, maka anak tersebut bisa disiapkan untuk memasuki sekolah dasar.
Di samping merubah tingkah laku seperti diatas anak autis juga diberikan pembelajaran perubahan tingkah laku seperti pembelajaran PKn di SD. Misal, diberikan pokok bahasan hormat menghormati yang diberikan pada anak level dini, menengah dan lajut dengan gradasi yang berbeda. Apabila sudah mampu menyamai anak SD kelas satu maka bisa dipindahkan di SD walaupun usianya sudah banyak, maksudnya melebihi usia anak SD.
Tidak semua SD bisa menerima anak autis, karena kebanyakan Kepala Sekolah SD merasa keberatan ditempati anak autis di sekolahnya. Hal ini disebabkan anak autis dianggap menganggu pembelajaran di kelas. Oleh karena itu pemerintah dengan landasan hukum yang kuat memberikan kesempatan pada anak yang berkelainan khusus seperti anak autis untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Kebijakan pemerintah melalui Diknas setempat menunjuk SD tertentu sebagai SD inklusi sehingga anak autis yang sudah normal bisa memasuki sekolah dasar pada SD yang ditunjuk, sebagaimana anak normal lainnya, sehingga bisa menerima pembelajaran PKn SD seperti anak yang lain.
Autis bukan penyakit menular melainkan sekumpulan gejala klinis atau sindrom yang dilatarbelakangi oleh berbagai faktor yang unik dan saling berkaitan satu sama lain. Oleh karena itu anak normal bersosialisasi dengan anak autis tidak perlu dikhawatirkan karena tidak bisa menular. Penyebab terjadinya anak autis secara religius memang sudah kodrat, namun secara medis disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor keturunan/genetik, faktor kesalahan penggunaan obat-obatan waktu dalam kandungan, faktor usia yang sudah lanjut waktu menikah, faktor racun logam berat, serta faktor gangguan pencernaan.
Solusi yang ditempuh untuk anak autis antara lain dengan pendekatan religius, waspada minum obat waktu hamil, usia pernikahan dipertimbangkan, mengeluarkan racun logam berat, memperbaiki pencernaan melalui dokter, mencukupi kebutuhan nutrisi sel-sel saraf otak dan melakukan diet makanan yang menjadi pantangan anak autis. Selain itu perlu mendapat terapis sejak dini dan terus menerus sampai mampu masuk sekolah umum tanpa memandang usia.

DAFTAR RUJUKAN
Autism Society of America. 2000. Advocate.
Berkow, Robert, M.D. Fletcher, Andrew J. M.B., B. 1987. Chin The Merck Manual of Diagnosis and Therapy. Fifteenth Edition.

Lovaas, O.I. 1991. The Me Book Teaching Developmenta;;y Disabled Children. Pro-ed Austin Texas.

Makalah-makalah dari Yayasan Autisme Indonesia. Tahun 1997 s/d 2000. Dalam Seminar Autisme.

Maurice C. 1996. Let Me Hear Your Voice. Fawcett Columbine, New York.

Maurice C. Green G, Luce S.C. 1996. Behavioral Intervention For Young Children With Autism. Pro-ed, Austin, Texas.

Quill, Kathleen Ann. ….. Teaching Children With Autism. Strategis to Enchance Communication and Sozialization. …

Shaw, William Phd. ……Bilogical Treatments For Autism and PDD……

Syamsudi. 2006. Kebijakan Strategis Subdin PLB Dinas P dan K Jatim tentang Anak autis. Makalah seminar nasional tentang autis di Universitas Negeri Malang.

Yuniar, Susanti. 2006. Terapis Terpadu Gangguan Spektrum Autisme dalam Kaitannya Dengan Kesiapan Anak Masuk Sekolah. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Autis di Universitas Negeri Malang.

Kategori:Artikel
  1. James Riady
    26 Februari 2010 pukul 4:22 pm

    Sekarang roti menjadi hot issue di Amerika ketika org Amerika-pun sekarang ini menjerit: Too Much Bread Improver, Too much Bread softener, Too Much Preservative.

    Pengujian roti di Malaysia menunjukkan bahwa 92% dari roti yang ber-edar (termasuk roti ternama atau roti yang dihidangkan di restoran siap saji) mengandung pengawet hingga 5 kali dari yang dibenarkan oleh undang-undang.
    Diperkira-kan hal yang sama juga terjadi pada industri makanan di Indonesia-pun.

    Di Indonesia makanan basah seperti mie basah, bakso basah, tahu basah, roti, dll, mengandung terlalu banyak pengawet. Dan karena mau murah mereka memakai pengawet yang bukan food grade. Padahal kebanyakan pengawet dihubungkan dengan penyakit ADD hiperaktive. Dan Bread Improver yang terlalu banyak untuk supaya roti dapat mengembang besar sekali bisa menimbulkan kanker (Source Wikipedia: Bread Improver)

    Kemarin ini di sekolah untuk anak kurang mampu, aku lihat anak cewek umur 5 tahun cakep, tapi kalau diperhatikan lagi anak kecil ini terkena penyakit ADD hiperactive(Jadi kerja-nya goyang melulu). Kasihan sekali, ya !!

    Sekarang juga sudah ada pengganti roti yang lebih sehat, yaitu roti beras kering (rice cake).
    Kalau yang buatan Australi nama-nya Sun Rice, kalau yang buatan lokal nama-nya N_asiKriuk Debbie (Tersedia di All Fresh atau Mini market Nano Pluit atau Supermarket Rezeki). Harga-nya juga tidak mahal.
    Rice cake /roti beras kering ini:
    Karena kering, tidak perlu pengawet.
    Karena terbuat dari beras, tidak perlu pengembang yang bisa menyebabkan kanker.
    Karena terbuat dari beras, bukan gandum, rendah kalori-nya, bisa tetap langsing.

    Karena banyak-nya obesitas (kegemukan), org Amerika sekarang juga berpindah dari gandum ke beras (cereal mereka yg pakai beras seperti cocoa puff atau rice krispy).

    Trm kasih.

  2. James Riady
    26 Februari 2010 pukul 4:23 pm

    Makan Roti Koq Tambah O ‘On

    Sekilas info untuk teman-teman, saya ingin berbagi informasi mengenai beberapa hal yang mungkin berguna bagi kita semua.

    Kemarin ini saya tertawa terkekeh-kekeh karena ada orang berkata: Anak saya, saya makanin roti tiap hari, koq nggak tambah pintar, tapi tambah O’On (Bloon).

    Inilah perkataan Sue Dengate mengenai pemakaian pengawet roti supaya roti bisa awet lebih dari 2 hari yg saya quote dari artikel “Bread for success”:

    Author and food intolerance counsellor Sue Dengate has researched calcium propionate, commonly known as preservative 282 in bread.
    “I think parents should know that there is a preservative in what we regard as a healthy food that is eaten several times a day by most children that can affect behaviours and learning disabilities,” Ms Dengate said.
    Preservative 282 is a mould inhibitor that is added to bread.
    “Most people think that additives are tested before approval,” Ms Dengate said. “Well I’ve got news for you, they are not tested for effects in children’s learning and behaviour.”
    The latest research suggests preservative 282 may cause permanent changes to the brain in rats, along with long-lasting defects in learning abilities.
    “All we can say is if it’s causing permanent damage in brains of rats what’s it doing to the brains of our children?” Ms Dengate said.

    Hasil dari penelitian di Malaysia terdapat sekitar 92% roti yang beredar (termasuk roti merek terkenal) menggunakan pengawet lebih banyak sampai 5x dari jumlah yang diijinkan oleh undang-undang. Bagaimana dengan roti yang ada di Indonesia? Informasi yang saya peroleh juga sangat memprihatinkan. (mungkin teman-teman ada yang bisa sharing).

    Sebagai ganti roti, ada produk yaitu rice cake (roti beras panggang) seperti “N_asiKriuk Debbie, atau Sun Rice dari Australia untuk menyelingi makan roti. Rice cake ini kering dan tak ber-pengawet, sehingga kadar pengawet dalam tubuh & otak tidak terlalu menumpuk.

    Kelebihan dari roti beras panggang sebagai pengganti roti yang lebih sehat antara lain:
    – Karena kering, tidak perlu pengawet.
    – Karena dari beras, rendah kalori-nya.
    – Proses pembuatannya tidak menggunakan pengembang (bread improver) dan pemutih.
    Dengan banyak-nya masalah obesitas, Amerika pun sekarang ber-alih ke produk2 yang terbuat dari beras dan ber-bentuk kering, spt rice crispy atau rice cereal.

    Terima kasih.

    Roti Beras Panggang N_asiKriuk Debbie atau Sun Rice bisa anda dapatkan di supermarket Rezeki, Nano-Pluit dan All Fresh.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: